PairinPay. Diberdayakan oleh Blogger.
Pasang surut keolahragaan Indonesia memang telah dialami sejak sebelum Indonesia merdeka hingga saat ini. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh aktifitas fisik, kebugaran jasmani masyarakat Indonesia itu sendiri dan seberapa besarkah peran pemerintah dalam membantu tercapainya suatu prestasi olahraga. Salah satu faktor mengapa prestasi olahraga Indonesia semakin lama semakin merosot yakni dipengaruhi oleh kebugaran jasmani masyarakat Indonesia sangat rendah. Hal ini disebabkan kebiasaan hidup sehari-hari masyarakat Indonesia yang kurang memprioritaskan pentingnya berolahraga. Masyarakat Indonesia ketika menginginkan sesuatu itu selalu ingin yang instan. Dan mereka sangat manja dengan alat-alat teknologi, sehingga menyebabkan keengganan untuk melakukan aktifitas fisik.
Dan akibatnya akan mempengaruhi gerak yang serba terbatas sehingga menyebabkan timbulnya penyakit kegemukan.
Sudah terlalu banyak ungkapan-ungkapan maupun penilaian dari masyarkat tentang prestasi olahraga di Indonesia ini. Ada ungkapan yang baik tentu juga ada ungkapan yang buruk, ada yang memuji dan ada juga yang mencaci. Seakan-akan para pakar olahraga di Indonesia sudah kehilangan solusi untuk memperbaiki prestasi olahraga dan citranya di mata masyarakat. Yang ada ribut dan ribut yang mereka bisa lakukan...
Saya kira tidaklah sulit mencari bibit-bibit atlet dari sekian juta penduduk Indonesia. Faktanya, di Indonesiaku tercinta ini tetap mempertahankan atlet-atlet lawas dan yang tak pernah bisa dihilangkan adalah PerDa (Pertalian Darah) ya… umumnya para atlet indonesia adalah saudara mereka para atlet terdahulu padahal kemampuannya tidak lebih baik bahkan mempunyai teknik yang buruk. Kalau begini kapan indonesiaku ini berprestasi.
Factor lain yang menyebabkan terpuruknya prestasi olahraga Indonesia adalah kurangnya kebiasaan berlatih. Dalam hal ini, para pelaku olahraga selalu menginginkan prestasi itu cepat tercapai tetapi tanpa adanya suatu proses, umumnya kita enggan memulai sesuatu itu dari yang kecil dan maunya langsung besar dan sukses. Saya kira itu tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinan terjadi.
Olahraga itu harus dilakukan secara sistematis, teratur dan terarah maka akan sangat membantu upaya kita dalam menciptakan pola hidup sehat dan berkualitas. Dan semoga saja dapat menjadi prestasi untuk bangsa Indonesia kita ini.
"Berjuanglah Indonesiaku"
 
Jika kita menelusuri hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) di daerah Provinsi Jambi maka kita dapat menjumpai Suku Anak Dalam (SAD). TNBD merupakan habitat SAD. TNBD merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis dataran rendah di Provinsi Jambi, ditetapkan pemerintah menjadi kawasan Taman Nasional. TNBD dapat ditempuh selama 3 jam dari Pauh kemudian sekitar 2 jam ke wilayah Bukit Suban.

SAD merupakan sebutan Pemerintah untuk menyebut SAD yang berarti manusia minoritas di Pedalaman. Selain itu, SAD dikenal juga dengan sebutan Orang Rimba atau Orang Kubu. Orang Kubu merupakan sebutan yang digunakan oleh Orang Melayu Jambi dan Palembang terhadap suku yang menyebut dirinya “Orang Rimba”. Kubu dalam bahasa Melayu berarti blok-blok pertahanan yang dilakukan secara bergerilya di dalam hutan. Orang Rimba tidak suka disebut Orang Kubu karena sarat dengan konotasi negatif. Sementara, Orang Rimba nama yang digunakan untuk menyebut mereka sendiri sebagai manusia yang tinggal di Pedalaman Hutan Bukit Duabelas.

Sebagian ahli memperkirakan SAD berasal dari nenek moyang ras Melayu tua (proto Melayu). Versi lain menyebutkan, Orang Rimba berasal dari perpaduan orang Bongson dari daerah Vietnam dengan orang Yunan. Perkawinan ras ini menghasilkan ras Bioto Melayu atau orang Melayu dan orang Rimba.

Indonesia kian gemerlap, namun apakah terpikir oleh anda bahwa di luar sana (hutan) masih ada saudara kita yang hanya hidup serba apa adanya. Mereka tidak tau tentang handphone apalagi komputer, yang mereka tau hanya bagaimana mereka bisa bertahan hidup dan dapat bersama-sama dengan sanak saudaranya. Apa yang dapat kita bantuuuu? tidak ada bukan... sungguh hal yang tragis, yang patut di tanyakan seberapa besarkah peran pemerintah menangani masalah suku anak dalam ini.

Berbuatlah untuk kemajuan Indonesia kita ini, mereka Suku Anak Dalam (SAD) pun menjaga kelestarian lingkungan tempatnya hidupnya yakni hutan. Mereka sangat marah apabila hutan tempat tinggalnya di usik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka yang tidak sekolahpun mengerti bagaimana memelihara hutan, apalagi kita... tentu lebih pandai lagi bukan. Malu dengan baju yang kita kenakan dibanding mereka yang hanya mengenakan kain penutup kemaluannya. Semoga di kedepannya kelak mereka dapat beradaptasi dengan gemerlapnya dunia kita... saatnya berbagi kepada saudara kita. Jangan perut sendiri yang kita pikirkan.


Apa yang dapat Anda simpulkan dari gambar diatas?


JAMBI resmi menjadi provinsi pada tahun 1958 sesuai dengan UU No.61, 1958, Juni 25. Provinsi Jambi terletak di sebuah kawasan yang dikenal sebagai sebagai Pulau Andalas atau Sumatera. Provinsi Jambi terletak antara 0 º 45 '- 2 º 45' Lintang Selatan dan antara 101 º 0'-104 º 55 'Bujur Timur. Terdiri dari 8 Kabupaten dan 2 Kota dengan jumlah penduduk 2.568.548 orang berdasarkan sensus tahun 2003. Wilayah Provinsi Jambi meliputi bidang 53,435.72 Km2 dan panjang 185 km. Batas-batas wilayah Propinsi Jambi adalah sebagai berikut:
  • Utara, dengan Provinsi Riau
  • Selatan, dengan Propinsi Sumatera Selatan
  • Barat, dengan Provinsi Sumatera Barat
  • Timur, dengan Laut Cina Selatan.
IKLIM

Di Provinsi Jambi, dari bulan November hingga Maret adalah musim hujan. Dan awal musim kemarau pada bulan Mei sampai Oktober. Rata-rata curah hujan 1900-3200 mm / tahun dan rata-rata hari hujan 116-154 hari / tahun. Suhu maksimum di Provinsi Jambi adalah 31 derajat celcius.

SEJARAH
Pada masa Melayu Kuno, Jambi diuntungkan oleh aktivitas perdagangan antara Asia Barat dan Cina, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa Cina merupakan sumber informasi tentang kesejarahan Jambi pada tahun 1460-1907 berbentuk kerajaan Islam yang disebut kerajaan Melayu II dengan Putri Selaro Pinang Masak sebagai raja pertama didampingi suaminya Datuk Paduko Berhalo.

Pada tahun 1615-1643 M, pada tahun pertama pemerintahan Sultan Abdul Kahar, Belanda mendirikan loji dagang di Muara Kumpeh. Namun pada tahun 1625 VOC menutup kantor dagangnya tersebut karena mendapat tantangan dari rakyat dan persaingan ketat dari pedagang bangsa lain. Pada masa sultan berikutnya, Sultan Abdul Jalil (1645-1665), terdapat berbagai masalah seperti perseteruan dengan Sultan Johor dan tekanan dari VOC karena sultan memberikan izin dagang kepada Portugis di Sungai Batanghari. Tekanan ini membuat sultan menyetujui perjanjian kerjasama dengan VOC yang ditandatangani oleh putranya Pangeran Ratu Raden Penulis yang kemudian menggantikannya sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Mahyi Sri Ingolongo.

Pada masa ini (1665-1690), terbunuhnya seorang kepala kantor kompeni Belanda di desa Gedung Terbakar membuat Sultan Ingolongo ditangkap dan dibuang ke Pulau Banda. Hal ini menyulut perlawanan terhadap Belanda yang mencapai puncaknya pada masa Sultan Thaha (1856-1904). Namun perjuangan rakyat Jambi terus berlangsung dan pada tahun 1907 barulah Jambi sepenuhnya jatuh dibawah kekuasaan Belanda.
Belanda memasukkan Jambi ke dalam wilayah keresidenan Palembang dengan dua asisten residen dan pada tahun 1905 Jambi menjadi keresidenan dan status asisten residen diganti menjadi onder afdeling yang salah satunya adalah Kerinci yang tadinya merupakan bagian keresidenan Sumatera Barat.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, kaum pergerakan dan dan pemuda membentuk Komite Nasional Daerah Jambi serta menyusun barisan laskar untuk membantu pemerintah. Namun seperti daerah-daerah lainnya, pemerintahan tidak dapat berjalan lancar karena adanya pergolakan-pergolakan kemerdekaan karena Belanda ingin kembali berkuasa.

Pada tahun 1948 provinsi Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi. Jambi termasuk dalam wilayah Sumatera Tengah. Namun aksi militer Belanda yang menyerang kota Jambi memaksa residen menyingkir ke luar kota. Dalam keadaan bergolak tersebut, Residen Inu Kertapati membuat surat kuasa untuk menjalankan pemerintahan ditempat yang tidak dikuasai Belanda. Pemerintahan Jambi mulai membaik sejak Konferensi Meja Bundar. Tahun 1958 provinsi Sumatera Tengah dimekarkan menjadi tiga provinsi, salah satunya Jambi.